Tanggal Posting

January 2012
M T W T F S S
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Aktifitas


Malu


oleh Islisyah Asman , Desember 2011

Dari Abu Mas’ud Uqbah bin Amr Al Anshari Al Badri Radhiyallahu ‘anhu, dia berkata:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

“Sesungguhnya sebagian ajaran yang masih dikenal umat manusia dari perkataan para nabi terdahulu adalah: ‘Bila kamu tidak malu, berbuatlah sesukamu” (HR Bukhari)

Malu adalah ajaran asasi para Nabi dan Rasul. Ia akan ada sampai kapanpun, tak pernah sirna, selagi manusia masih menghuni dunia ini.

Ajaran para Nabi, sejak Nabi pertama hingga Nabi terakhir, ada yang sudah sirna dan ada yang tidak. Di antara ajaran yang tidak pernah sirna adalah perasaan malu.  Hal ini menunjukkan bahwa rasa malu memang diajarkan sebagai akhlak dasar manusia, dan memiliki kedudukan yang sangat tinggi di dalam agama. Oleh karena itu harus mendapat perhatian yang mendalam.

Jika tidak punya rasa malu, maka berbuatlah sesukamu. Begitu kata Nabi Muhammad Shalallahu alahi wassalaam. Memang dalam hal malu ini, di antara ulama berbeda pendapat dalam memahami perkataan Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam: “berbuatlah sesukamu”.

Sebagian dari mereka (para ulama) itu memahaminya sebagai sebuah perintah.  Namun sebagian lainnya memahami bukan sebagai perintah.  Ulama yang memahami sebagai perintah, menjelaskan bahwa jika sesuatu yang hendak diperbuat tidak mendatangkan rasa malu, maka lakukanlah sesuai dengan yang diinginkan. Sementara ulama yang memahami bukan sebagai perintah, mereka memberikan 2 (dua) penjelasan, yaitu:

1.  Maknanya sebagai ancaman. Ancaman bagi yang tidak memiliki rasa malu adalah mereka yang memperturutkan hawa nafsu.

2.  Maknanya sebagai berita. Memberitakan bahwa siapa saja yang tidak memiliki rasa malu, maka pasti mereka akan berbuat sesuka hatinya.

Bagi kita, baik kelompok ulama yang pertama, maupun kelompok ulama kedua, semuanya memiliki pemahaman yang benar. Hadits tersebut di atas memang mempunyai konotasi bahwa kita diperintahkan untuk memiliki rasa malu. Bila tidak, maka berbuatlah sesuka hati, seperti hewan yang tidak memiliki perasaan malu.

Malu Bagi Muslimah

Pengantar

Malu itu bukan pemalu atau malu-maluin. Pemalu adalah rasa malu yang berlebihan, penyakit jiwa dan lemah kepribadian. Sifat malu tidak menghalangi tampil menyuarakan kebenaran, tidak menghambat belajar dan mencari ilmu.

Dari Zainab binti Abi Salamah, dari Ummu Salamah Ummu Mukminin berkata: “Suatu ketika Ummu Sulaim, istri Abu Thalhah, menemui Rasulullah Saw seraya berkata: ‘Ya Rasulullah, sesungguhnya Allah tidak malu pada kebenaran. Apakah seorang wanita harus mandi bila bermimpi?’

Rasulullah Saw menjawab: ‘Ya, itu bila ia melihat air (yang keluar dari kemaluannya karena mimpi)’” (HR. Bukhari dalam Kitab Ghusl, hadits nomor 273)

Lakukan Apa Maumu!

Jika urat malu sudah hilang, maka “Idza lam tastahyii fashna’ maa syi’ta (bila kamu tidak malu, maka lakukanlah apa maumu!)” (HR. Bukhari dalam Kitab Ahaditsul Anbiya, hadits nomor 3225).

Ada tiga pemahaman atas sabda Rasulullah Saw di atas.

Pertama, ia ancaman. “Perbuatlah apa yang kamu mau, sesungguhnya Dia Mahamelihat apa yang kamu kerjakan” (QS. Fushshilat: 40). Kedua, memberitakan kondisi orang yang tidak punya malu, bahwa mereka bisa melakukan apa saja karena tidak punya standar moral. Tidak punya aturan. Ketiga, ia berupa perintah kepada kita untuk bersikap wara’ (bersahaja, sederhana saja).

Malu yang Paripurna

Ada makna tersirat bahwa beliau Saw berkata, “apa kamu tidak malu melakukannya? Kalau malu, menghindarlah!” Begitu kira-kira kalau bahasa bebasnya. Namun Salman Al-Farisi, seorang Shahabat, terkemukan punya pemahaman lain sehubungan dengan hadits itu.

  1. Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla apabila hendak membinasakan seorang hamba, maka Ia cabut perasaan malu.
  2. Bila malu telah dicabut, maka engkau mendapatkannya sebagai orang murka dan dimurkai.
  3. Bila ia sebagai orang pemarah dan dimurkai, maka dicabutlah sifat amanahnya.
  4. Bila sifat amanah dicabut, maka engkau akan mendapatkan ia sebagai pengkhianat dan dikhianati.
  5. Bila ia telah menjadi pengkhianat dan dikhianati, maka rahmat Allah dicabut dari dirinya.
  6. Bila rahmat dicabut, maka engakau akan mendapatkannya sebagai sosok pengutuk dan dikutuk.
  7. Bila engkau menemukannya sebagai pengkutuk dan dikutuk, maka dicabutlah darinya ikatan Islam” (HR. Ibnu Majah dalam Kitab Fitan, hadits nomor 4044, sanadnya lemah, tapi isi haditsnya shahih).

1.  Busana Takwa

Perempuan beriman adalah pemalu. Tampak malunya dari busana. Ia menggunakan busana takwa, menutupi auratnya. Para ulama sepakat bahwa aurat perempuan di hadapan pria adalah seluruh tubuhnya, kecuali wajah dan telapak tangan.

Ibnu Katsir berkata, “Pada zaman jahiliyah, sebagian perempuan berjalan di tengah kaum lelaki dengan belahan dada terbuka. Model pakaian tersebut memperlihatkan leher, rambut, dan telinga mereka. Allah SWT lalu memerintahkan perempuan Muslimah menutupi bagian-bagian tersebut”.

2.  Menundukkan Pandangan

Menundukkan pandangan adalah bagian dari rasa malu. Mata itu punya sejuta bahasa. Kerlingan, tatapan, dan isyarat tubuh, menimbulkan berjuta rasa di dada lelaki. Perempuan memiliki pandangan setajam anak panah. Lelaki segera faham akan pesan dari pandangan itu. Karena itu Allah SWT memerintahkan lelaki dan perempuan menundukkan sebagian pandangan mereka.

3.  Menghindari Ikhtilat (Campur baur Lelaki-Perempuan)

Realitas, perempuan kini telah terjun ke arena sektor publik, sebagai profesional atau aktivis sosial-politik. Mereka melayani kepentingan sesama perempuan. Ada yang terpaksa. Bahkan banyak perempuan bekerja karena ia menjadi tulang punggung keluarga. Sehingga, ikhtilath (bercampur baur dengan lelaki) tidak bisa terhindari.

Tetapi sesungguhnya kata ikhtilat tidak dikenal dalam warisan sejarah budaya Islam. Mungkin saja ia berasal dari bahasa asing. Kata tersebut tidak menenteramkan hati setiap muslim. Lebih baik menggunakan liqa’ atau muqabalah – yang keduanya berarti pertemuan—atau musyarakah (keterlibatan) seorang lelaki dan perempuan. Namun Islam mengeluarkan aturan secara umum terkait dengan masalah ini, melihat tujuan aktivitasnya atau maslahat dan bahayanya, gambaran utuh dan syarat-syarat yang harus diperhatikan di dalamnya. Dalam hal ini ada adab yang harus ditegakkan kala terjadi muqabalah antara pria dan perempuan, yaitu:

  1. Dibuatkan pembatas tempat pertemuan antara lelaki dengan perempuan.
  2. Menjaga pandangan dengan menundukkan sebagian pandangan.
  3. Hindari berdesak-desakan dan lakukan pembedaan tempat bagi lelaki dan perempuan.
  4. Tidak berkhalwat (berduaan dengan lawan jenis).
  5. Hindari tempat-tempat yang meragukan dan bisa menimbulkan fitnah.
  6. Hindari pertemuan yang lama dan sering, sebab bisa melemahkan sifat malu dan menggoyahkan keteguhan jiwa.
  7. Hindari hal-hal yang dapat menimbulkan dosa dan keinginan batin untuk melakukan yang haram, bahkan sekalipun itu membayangkannya.
  8. Bagi perempuan, pakailah pakaian syar’ie, tidak memakai wewangian, batasi diri dalam berbicara (perhatikan gaya bicara, jangan genit!) dan menatap, serta jaga kewibawaan dalam beraktivitas.

Penutup

Islam tidak mengekang perempuan. Ia bisa terlibat dalam kehidupan sosial bermasyarakat, berpolitik, dan berbagai aktivitas lainnya. Islam hanya memberi frame dengan adab dan etika. Sifat malu adalah salah satu frame yang harus dijaga oleh perempuan muslimah yang meyakini bahwa Allah SWT melihat setiap polah dan desiran hati yang tersimpan dalam dadanya.


Leave a Reply

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>